Sabtu, 08 Oktober 2011

Menyemaikan Nilai-Nilai Sastra di Pedesaan

Menyimak kegiatan LSdP (Liburan Sastra di Pedesaan ) #5 yang diadakan oleh Komunitas Matapena Yogyakarta, 26-28 Desember 2010 memberikan nuansa yang baru bahkan bisa dikatakan berbeda dari LSdP sebelumnya yang berlokasi di pesantren. Hal ini karena LSdP kali ini diadakan di pedesaan yang masih memegang tradisi dan budaya lokal masyarakat setempat. Tepatnya di Dusun Santan Guwosari Pajangan Bantul, dusun yang juga sering digunakan untuk kegiatan yang bersifat akademis, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN)dan Latihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LKD PMII) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lalu bagaimana jika kegiatan sastra–yang selama ini masih dianggap ekslusif–berbaur dengan kondisi sosial masyarakat setempat? Tentu sebuah pertanyaan menarik akan muncul. Mungkinkah sastra bisa menjadi bagian dari masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai luhur atau dapatkah sastra mengangkat harkat dan martabat umat manusia dus penduduk sebuah dusun? Sebuah karya sastra lahir dari persentuhan seseorang baik secara langsung atau tidak dengan ranah sosial. Akan tetapi, selama ini sastra belumlah begitu karib di kalangan masyarakat awam kalau tak boleh dibilang tak dikenal sama sekali.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari sebuah karya sastra? LSdP adalah bagian dari kegelisahan para pegiat dan penikmat sastra yang menamakan diri Komunitas Matapena, yang coba diwujudkan dalam bentuk kegiatan positif. Komunitas Matapena yang selama ini konsen terhadap pernik-pernik lokalitas merasakan pula bagaimana kondisi masyarakat sekarang yang tak sedikit mulai tercerabut dari akar nilai-nilai kemanusiaan. Sementara manusia memiliki sebuah nilai di dalam nuraninya yang masih tersimpan, seperti nilai-nilai kejujuran, perdamaian, kebersamaan, dan lain sebagainya. Nilai tersebut adalah ruh seyogyanya mengisi sebuah karya sastra. Nilai-nilau itu pulalah yang masih banyak dilahirkan dan bertebaran dalam kebudayaan masyarakat pedesaan. LSdP bisa menjadi alat untuk menyemaikan kembali rasa kebersamaan, kejujuran, cinta dan kasih sayang di dalam kehidupan yang beraneka ragam.
Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra baik itu puisi, cerpen, novel–melalui LSdP–haruslah transformasikan terus kepada generasi -generasi baru sebagai bagian untuk menyemaikan nilai-nilai luhur dalam berkarya sastra. Sebuah karya sastra yang yang tidak melahirkan sisi-sisi ruang kemanusiaan tentulah akan menguap begitu saja, tidak akan membekas bagi orang-orang yang menikmatinya. Baik itu pembaca, masyarakat, atau penulis itu sendiri.

Tentu bukan hal yang mudah untuk menyebarkan nilai-nilai kejujuran, gotong royong, perdamaian dan lain sebagainya, butuh sebuah proses panjang dan berkesinambungan dari setiap generasi. Paling tidak dari sebuah karya sastra yang ditulis oleh orang yang berhati jernih dan memiliki kemanusiaan tentu akan melahirkan sebuah karya sastra yang berpengaruh terhadap perubahan kebudayaan manusia. Tanpa itu semua sebuah karya sastra akan dianggap sebagai barang yang dijual murah.

Persoalan yang terjadi di masyarakat akan bisa dijawab oleh karya sastra yangmemiliki sifat kemanusiaan. Manusia dan karya sastra dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Sastra membutuhkan manusia-manusia yang berhati jernih untuk bisa menangkap kondisi sosial masyarakat yang terus berkembang untuk kemudian dituangkan dalam sebuah karya. Perkembangan kebudayaan umat manusia itu tidak mengenal batas ruang dan waktu baik di pedesaan maupun perkotaan. Ketika penyebaran nilai-nilai sastra sudah merata maka sebuah karya sastra akan memiliki derajat yang tinggi. Amin.[]


*Humam Rimba Palangka. Lahir di Kebumen, 6 Mei 1982. Pernah bergiat di Komunitas Sangkal Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Karyanya pernah dibukukan dalam Antologi Jalalah, diterbitkan di Majalah BAKTI dan Indipt Online. Sekarang aktif di Komunitas Remaja Desa Kembaran.

Tidak ada komentar:

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer