Minggu, 09 Oktober 2011

Gus Dur sebagai Kata Kerja

Muhammad Al-Fayyadl


Memang mudah meraba denyut kehilangan itu setelah setahun lebih kepergiannya. Di Ciganjur, tepat di peringatan haulnya, ratusan orang berkumpul dan mengadakan berbagai acara hingga dua hari suntuk, dari diskusi serius, obrolan ringan, hingga panggung seni, untuk mengenangnya—seakan dia pergi untuk dimeriahkan, tidak untuk diratapi. Tapi, tetap, meski orang-orang tertawa (mereka mungkin mengenang lagi kejenakaan dan humor-humor cadasnya), atau sekadar bercanda kecil di tengah reriuhan acara, ada tanda tanya menggantung, yang tak terjawab: ada apa pasca-Gus Dur?


Pasca-Gus Dur. Kombinasi kata ini aneh. Seakan Gus Dur adalah sebuah istilah yang mentereng, selevel dengan pascamodernisme, misalnya. Untuk nama orang, hampir tidak pernah kita temukan kata pasca dilekatkan begitu saja sebagai buntut: tak ada “pasca-Buramin”, “pasca-Mularmah”, atau “pasca-Sariman”. Dalam literatur ekonomi-politik, kita pernah mengenal sebuah era setelah 1950-an yang disebut post-Fordism, atau pasca-Fordisme, untuk menandai babakan era kapitalisme baru setelah kematian Henry Ford, jutawan pencipta mobil dengan merek namanya. Orang Barat punya kebiasaan menyematkan kata pasca di belakang nama figur yang kiprahnya mereka anggap memberikan capaian besar dalam sejarah, sering kali dengan bubuhan isme, seakan satu orang itu menandai satu fase sejarah yang amat penting.

Gus Dur mungkin memenuhi kriteria untuk disematkan isme di belakang namanya. Namun, sangat jarang kita mendengar “Gus Durisme”, sehingga rasanya anomali yang tak wajar meng-isme-kan Gus Dur. Meng-isme-kan Gus Dur, kita bukan saja akan dituduh mengideologikan sosoknya, memitoskan segala tindak-tanduk ke-nyelenehan-nya, tapi memang tidak ada alasan yang cukup memadai untuk melakukannya. Sepertinya jika Gus Dur masih hidup, ia akan menertawakan isme-isme itu, seraya mengajak kita untuk tak terlalu serius dengan apa yang ia omongkan. “Gitu aja kok repot!”.

Gus Dur, karenanya, berbeda dengan Bung Karno. Bung Karno, sosok yang begitu tegak menjulang dalam sejarah republik ini, adalah seorang ideolog dalam pengertian yang harfiah dan konsisten, sehingga para pengikutnya kerap menyebut “Soekarnoisme” untuk mengidentifikasi diri dengan pemikirannya. Mendengar kata “Soekarnoisme”, kita masih dapat menangkap asosiasi logis yang coba dibangun, tapi tidak dengan “Gus Durisme”. Seolah Gus Dur memang tak tercipta untuk di-isme-kan.

Jika setahun tepat setelah kematiannya, sejumlah besar orang kemudian menyebut diri mereka “Gus Durian”, dan muncul begitu banyak paguyuban, komunitas, atau perkumpulan kecil “Gus Durian” di berbagai kota, itu bukan karena Gus Dur seorang pemimpin tarekat dan mereka hendak membangun tarekat gusduriyyah, tapi karena ada keinginan kecil yang lamat-lamat menguat dan meluas untuk memposisikan “Gus Dur” dalam aktualitas kita hari ini. Dengan kata lain, memahami apa itu “pasca-Gus Dur” dan apa implikasi konkretnya.

Kata Sifat dan Kata Kerja

Memahami “pasca-Gus Dur”, berarti menilai lagi apa posisi Gus Dur dalam imajinasi kita hari ini. Meletakkan Gus Dur hanya sebagai sumber nostalgia, kita tak yakin bahwa ini berlangsung lama. Setahun, dua, tiga, atau empat tahun, bayangan-bayangan kenangan tentangnya masih kuat menancap; kita bisa menjaga ingatan itu dengan terus-menerus mengadakan seremoni tertentu untuk mengenangnya, berbagi “rindu” dengannya atau dengan orang-orang yang pernah bertemu dengannya, atau berdoa bersama untuknya, lazimnya upacara-upacara haul di pesantren. Karena setiap ingatan selalu butuh untuk diimajinasikan-ulang, maka ia butuh institusionalisasi, dan berbagai seremoni itu merupakan bentuk institusionalisasi “Gus Dur” dalam ingatan sosial kita.

Namun, cinta dan keharuan akan kenangan masa lalu itu rasanya tak cukup. Ujian bagi nama-nama besar sering kali datang dari waktu yang terus melangkah. Gus Dur sendiri sering berujar dalam berbagai tulisannya, “Hanya waktu yang bisa menjawabnya”. Sebagaimana kawan baiknya, Cak Nur, yang namanya tampak kian terdengar sayup karena perbedaan pandangan dan langkah di antara “pewaris-pewaris” pemikirannya, nama Gus Dur dapat juga mengalami ujian yang sama seiring kaki waktu yang terus melangkah. Gerusan zaman hari ini yang begitu ganas, gelombang isu-isu yang terus menerpa bagai tsunami di republik ini, hingga krisis kepercayaan akan nama-nama besar akibat individualisme yang tinggi, dapat saja menghanyutkan—jika tidak menenggelamkan—perlahan-lahan nama Gus Dur dan mendamparkannya ke tepian terjauh ingatan kita.

Di sini, “pasca-Gus Dur” dalam konteks gerakan Gus Durian mendapat aksentuasinya. Sekadar menjadi “Gus Durian”, berarti meletakkan Gus Dur sebagai kata sifat, dan itu artinya menyematkan suatu identifikasi diri dengan Gus Dur sebagai sumber nostalgia dan ingatan. Sebagaimana keimanan, menurut sebuah diktum dalam khazanah Islam klasik, bertambah dan berkurang, menguat dan menyusut, “iman” Gus Durian ini dapat juga bertambah dan berkurang, melonjak atau menyusut, dan bahkan hilang sama sekali tak berjejak. Hasrat untuk menancapkan Gus Dur pada ingatan semata, sebagai sumber nostalgia, tidak menjamin ingatan itu mampu bertahan terhadap tarikan waktu yang terbukti lebih digdaya daripada prasasti nama-nama besar dalam sejarah masa lalu kita.

Gus Dur tampaknya memang tidak cocok untuk sekadar menjadi kata sifat, menjadi ajektif, karena Gus Dur adalah pelaku, subjek, yang sepanjang hidupnya bergulat dengan laku, dengan tindakan dan aksi. Gus Dur tak pernah menjadi Gus Durian, jika Gus Durian hanya berarti kata sifat—barangkali mirip Marx yang pernah menolak disebut Marxis, dugaan saya, sejauh menjadi Marxis hanya berarti atribut. Dalam keunikan dan kapasitasnya itu, Gus Dur adalah Gus Durian sekaligus Gus Dur itu sendiri; seorang yang selain punya sifat-sifat Gus Dur, juga seorang yang menggusdur, orang selalu mengaktualkan diri dalam tindakannya.

Sebagai pelaku, Gus Dur dikenal luas karena keberpihakannya yang konsisten atas kelompok termarjinalkan: minoritas, buruh, eks-tapol, TKI, masyarakat adat, kelompok kepercayaan, dan elemen-elemen akar rumput lainnya. Berbagai tindakan itu secara teoretis kemudian sering disebut sebagai upaya untuk menjaga kekuatan masyarakat sipil di hadapan negara, yang saat itu begitu kuat dan represif. Meski begitu, Gus Dur sebenarnya berjuang bukan hanya untuk masyarakat sipil secara umum, tetapi juga untuk kelompok kelas dan sub-kelas, unsur-unsur sosial yang tersubordinasikan lagi di bawah kelas-kelas yang ada (the subaltern). Mereka bukan lagi buruh, tetapi buruhnya buruh; bukan lagi tani, tetapi buruhnya tani; bukan lagi pekerja, tetapi pekerjanya pekerja. Kepada berbagai anasir yang sering luput dari perhatian ini, Gus Dur sering menautkan keberpihakannya.

Dan keberpihakan itu, meski diolahnya dari sumber-sumber teoretis yang kaya (baik tradisional dari khazanah keislaman sendiri maupun modern dari ilmu-ilmu sosial), selalu diterjemahkannya dalam praksis nyata. Ia mengunjungi secara pribadi kelompok-kelompok itu, memberi dukungan, atau berbicara di media, yang kemudian mengetuk perhatian banyak orang untuk bekerja bersama-sama menangani persoalan tertentu menyangkut mereka. Ia memang berpihak, karena Gus Dur secara sosial tergolong orang dari kelas yang beruntung dan memiliki “modal kultural”: ia putra seorang kiai, seorang terdidik, dan punya akses untuk menjadi pemimpin. Namun, walau begitu, keberpihakan ini bukan keberpihakan rata-rata kaum kelas menengah yang berubah-ubah seturut angin “sikon”, tetapi keberpihakan yang menempatkan ia sebagai pihak yang menjadi korban itu sendiri—keberpihakan yang menyepihak. Itu alasan mengapa Gus Dur sering menempuh jalan yang tak populer, sebuah jalan sunyi, yang membuatnya disalahpahami, atau kalau mujur, setengah dimaklumi “hanya Tuhan dan Gus Dur yang tahu maksudnya”.

Setelah ia tiada, kita merasakan memang, betapa langkah-langkah personal seperti itu terlalu berat dibebankan lagi pada satu atau dua orang. Terlalu berat berharap lagi pada figur-figur yang ada—tokoh-tokoh yang eksis sering kali bukan dari tindakan nyata, melainkan polesan citra. Karena memang tak mudah “meniru” Gus Dur, atau menjiplaknya, orang lebih memilih menjadi Gus Durian.

Tapi para Gus Durian itu bukan copy-paste dari Gus Dur, bukan pula pengikut dari sebuah isme, atau fans club dari sebuah federasi sepakbola Gus Dur. Buat saya, mereka hanya orang yang ingin mengubah Gus Dur dari “kata sifat” menjadi “kata kerja”. Kata kerja untuk Indonesia, dengan atau tanpa baju Gus Dur.



Muhammad al-Fayyadl adalah santri dan penulis muda yang produktif. Ia telah menulis buku Derrida, sebuah pengantar menuju pemikiran filsuf kontemporer Prancis, Jacques Derrida. Selain menekuni filsafat kontemporer, ia juga menekuni pemikir sufi agung Andalusia, Ibn Arabi.  

Tidak ada komentar:

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer