Kamis, 22 September 2011

Puisi Faisal Kamandobat

Karya Vincent Van Gogh
SEPERTI MATAHARI

seperti matahari, cinta ini 
tak seorang pun menciptanya 
bahkan engkau dan aku, bahkan mawar 
yang berguru pada musim 
serta para rahib 
yang tekun menyimak wahyu 

mereka tak mampu
mencipta cinta



tapi kita yang polos dan berdosa 
dapat memilikinya: 
tanpa berguru pada musim 
dan menjadi pertapa 
cinta membuat kita mampu 
mengerti segalanya 

setiap kali membuka mata 
wajahmu dan wajahku ikut terbuka 
layaknya kitab 
yang dapat dibaca dari arah mana saja 
dan memberi makna 
sebanyak yang kita minta

tapi, kita tak pernah tuntas
mempelajarinya

maka kita yang jatuh cinta 
akan menderita, lebih dalam
dari ratap para rahib 
lebih getir dari nyanyian mawar
di musim kering


SAJAK OEDIPUS KEPADA IBUNYA

jika kau meninggalkan aku
dengan hati berapi
dan jika aku kau tinggalkan
dengan mata terbakar
maka pertemuan kita sempurna

tapi sebelum aku mati
kau harus ingat satu hal:
bahwa di sini
antara lidah dan jantungku
masih tersimpan pesan-pesanmu
dan getar suaramu
tetap berdenyut di leherku
menjadi nyawa
yang enggan pergi

kau buat aku tak bisa hidup
dan tak bisa mati
menjelma hantu abadi
melayang di atas hidupmu

coba tengok sekali lagi
lihat padam mataku padam
lihat dadaku lihat:
tak ada dendam
tak ada kekejian
keduanya telah musnah
ke dalam cinta yang aneh

dan jika kau sentuh pelipisku
atau kau usap pipiku
akan kau dapati parasku
pada paras anak lelakimu
yang tak lagi mengenalmu
sebagai ibu yang kudus
tapi mengenalmu
sebagai rahim dunia
tempat kebaikan dan kejahatan
berawal dan berakhir

kini, dengan segenap kegilaan
kita terima segala kutukan:
mataku yang terbakar membuta
dan hatimu yang berapi
menghancur di hatiku



SEPERTI TUHAN


malam ini namamu
kutanggung sebagai doa
yang gagal kupanjatkan
dengan mataku yang padam
dan lidahku yang patah

aku kehilangan peta
menuju tuhan
sudah lama aku tidak bicara
dengan langit dan planet-planet
sudah lama aku tak bicara
dengan diriku

segalanya adalah engkau
yang mencintaiku bagaikan tuhan
enggan dibagi atau terbagi
dengan apa dan siapa pun:
aku pun menyaksikan segalanya
setelah kau butakan mataku

maka kutinggalkan kau
dalam saat yang duka ini
aku ingin kau gembalakan sendiri
cinta dan bayang-bayangnya
sepanjang jalan yang dingin
dan penuh hantu

maafkan atas setiap dosa
yang belum kulakukan
karena cinta dalam diriku
tak punya ikatan dengan apapun



Starry Night over the Rhone, Vinvent van Gogh



FaisalKamandobat adalah penyair, prosais dan eseis kelahiran Cigaru, Majenang, Cilacap. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media massa, majalah, jurnal, dan antologi bersama. Ia bergiat sebagai redaktur di Jurnal Puisi Indonesia  Rumah Lebah, humas di Bale Sastra Kecapi Jakarta, pembina Jaringan Komunitas Sastra Pesantren Matapena dan Komunitas Kebun Makna, serta peneliti madya di Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta. Sekarang sedang belajar di Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Jakarta.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

lumayan romantis

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer