Jumat, 23 September 2011

Kolom Gus Dur Tentang Sastra Pesantren

PESANTREN DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA

Abdurrahman Wahid


Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak, karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.


Yang ironis, justru sebuah karya pendek yang berhasil menampilkan permasalahan kejiwaan di pesantren. Karya itu adalah cerpen Robohnya Surau Kami, oleh A. A. Navis. Permasalahan cerpen ini, yaitu fatalisme yang melanda kehidupan beragama, adalah permasalahan yang tipikal pesantren. Walaupun latar belakang sosial yang disoroti adalah kehidupan kampung yang "biasa", tetapi jelas sekali cerpen ini dipengaruhi corak kehidupan surau/pesantren di Sumatra Barat


Sebaliknya, karya HAMKA, Di Bawah Lindungan Ka'bah, justru tidak mengungkapkan kehidupan kejiwaan pesantren. Walaupun yang dikemukakan adalah cerita berlatar belakang kehidupan beragama, tetapi tema pokoknya tidaklah demikian. Tema itu adalah mengenai kegagalan cinta dan usaha mengatasinya, dengan cara mengasingkan diri di Makah. Tema pengorbanan cinta adalah tema umum kemanusiaan, apa pun juga latar belakangnya. Dalam hal ini, karya HAMKA tersebut mengingatkan kita pada pengorbanan tokoh utama karya Andre Gide, La Porte Etroite. Dalam karya ini, tokoh Alissa mengorbankan cinta dengan jalan menjadi seorang biarawati.


Abstraksi-Abstraksi yang Sukar Difiktifkan

Mengapakah sedikit sekali kehidupan pesantren digambarkan dalam kesusastraan kita? Ada beberapa sebab yang dapat dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, karena persoalan dramatis di pesantren berlangsung pada "taraf terminologis" yang tinggi tingkatannya. Soal abstrak seperti determinasi ( al-jabru), free destination (iradah), intensitas ketun-dukan kepada Tuhan, dan sebagainya, sukar sekali dituangkan dalam sebuah cerita fiktif.

Kedua, karena masih kakunya pandangan masyarakat kita terhadap manifestasi kehidupan iberagama di negeri kita. Oleh Nurcholis Madjid, pandangan ini dinamai sakralisme agama. Dengan demikian, naluri sastra dan elastisitas bentuk penceritaan tidak memperoleh jalan pelepasan. Kita masih ingat akan reaksi sangat keras terhadap karya KifPandji Kusmin, Langit Makin Mendung, beberapa tahun yang lalu.


Desakralisasi

Jika proses desakralisasi kehidupan beragama telah jauh berlangsung, sebenarnya manifestasi kehidupan beragama dapat menjadi medium sastra yang unik. G. K. Chesterton, misalnya, telah menyajikan kepada kita rangkaian kisah seorang pendeta detektif, Father Brown. Walaupun karya ini tidak dapat dianggap sebagai karya sastra yang serius, tetapi minimal ia telah menunjukkan betapa uniknya kehidupan beragama sebagai medium sastra.

Pada umumnya, medium yang digunakan adalah satire, seperti rangkaian novel Giovanni Guareschi di Italia pada tahun-tahun lima puluhan. Karya Guareschi itu melukiskan suka duka seorang pendeta kampung yang turut campur soal-soal politik lokal. Tokoh pendeta-politikus Don Carmillo ini begitu menarik perhatian, sehingga karya Guareschi tersebut terkenal tidak hanya di Italia saja, bahkan telah menjadi epik modern yang setara dengan ketenaran karya klasik Jaroslav Hasek, Serdadu Baik si Schweik.

Pada waktu Lurah Don Peppone, seorang komunis, tampaknya akan memperoleh kemenangan dalam sebuah pemilihan lokal, Don Carmillo menghadap pada patung salib Yesus di altar gereja bobroknya. Menolak permintaan Don Carmillo agar Ia menyelamatkan kampung itu dari bahaya komunis,Yesus menjawab bahwa urusan politik bukan urusan-Nya!
 Mungkinkah satire seperti ini diterbitkan di negeri kita dewasa ini, dengan tidak menerbitkan gelombang reaksi yang hebat?


Jangan Satire

Salah satu jalan untuk mengatasi kekurangan penggarapan materi pesantren dalam kesusastraan kita, adalah dengan mencari persoalan dramatis yang tidak mengarah pada bentuk satire. Dalam hal ini dapat dikemukakan contoh berupa karya seorang penulis Yahudi Amerika, Dr. Chaim Potok.

Potok menceritakan pergulatan Hari, seorang pemuda Yahudi dari sekte ortodoks, yang mempunyai ayah seorang rabbi terkemuka. Rabbi itu, dengan penderitaan luar biasa, harus melarikan diri dari Rusia dan berpindah ke New York. Dalam kedegilan hati yang luar biasa, ia menentang setiap usaha untuk mengadaptasi hukum agama Yuda pada kehidupan modern.

Keagungan kepribadiannya digambarkan dengan sangat mengena oleh Potok: ketundukannya yang penuh pada ajaran agama, kejujurannya untuk membela nilai-nilai yang dijunjungnya tinggi, kasih sayangnya kepada jemaat yang dipimpinnya, dan kekerasan hatinya untuk melawan setiap "bujukan" untuk berkompromi dengan kehidupan modern di Amerika. Dalam dua karyanya, The Chosen dan The Promise, Potok menyajikan pergulatan yang khusus bersangkutan dengan sikap hidup beragama, secara serius dan penuh kecintaan.

Dalam karyanya yang ketiga, My Name is Asherlev, diceritakan seorang pemimpin Yahudi dari sekte kolot, yang mempunyai seorang anak genius yang berbakat melukis. Padahal lingkungan sektenya tidak memperkenankan penuangan bentuk makhluk hidup ke dalam lukisan. Secara dramatis diperlihatkan bagaimana penderitaan batin sang ayah, yang terjepit antara tugasnya kepada masyarakat, dan antara bakat anaknya yang begitu luar biasa.

Karena teknik penceritaan, pengetahuan bahasa, dan keindahan sastra yang bertaraf tinggi, drama tersebut menjadi sangat menarik perhatian bagi pembacanya. Pada pokoknya, Potok berhasil mengungkapkan dilema keagamaan yang universal bagi kita semua: bagaimana harus mempertemukan ketun-dukan pada nilai agama dengan kebutuhan hidup modern ini.

Potok mencapai hasilnya yang gemilang itu, dengan pujian dari para kritikus sastra yang terkemuka, karena ia menguasai persoalan yang digarapnya. Jelas dari ketiga karyanya itu bahwa ia mengalami sendiri kemelut yang digambarkannya. Dengan demikian, pesan yang hendak disampaikannya kepada pembaca tampak penuh kejujuran, bukannya gambaran tentang suatu sentimen murahan yang digarap secara cengeng.

Kalau ada juga sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka.

 
Kompas, 26 November 1973


Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur (alm.) adalah alumnus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Pondok  Pesantren Tegalrejo Magelang, kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo (tidak selesai) dan Universitas Baghdad, Irak. Selama hidupnya pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Ketua Dewan Juri Film dalam Festival Film Indonesia (FFI), Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, dan Presiden Republik Indonesia. Ia adalah figur dari pesantren yang menjadi inspirasi bagi generasi santri masa kini

Tidak ada komentar:

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer