Sabtu, 24 September 2011

Puisi-puisi Ilham Akbar

rumahku

rumahku di tengah belantara desa
rumahku kayu berjajar berbentuk undakan
cinta tertata rapi di setiap pintu
udara sopan bergeming lewat

tawa anak laki-laki
memamerkan mainan kayu susunnya
menjadi kebanggaan
dan lukisan pelangi
menyihir
agar semua tersenyum

rumput-rumput hijau menari
seakan punya mata dan kaki-kaki menari
di pagi hari

aku begitu cemburu
setelah sekian lama hampir melupakan
rumah kayuku—
bukan bebatuan di tengah kota

candaku dan ibuku
dia mungkin jauh setua tiang-tiang rumahku
namun mengerti aku yang muda
sambil menirukan gaya mudaku
di antara usianya
yang hampir menyentuh ke tanah

ayahku
dia tak mirip denganku
tubuhnya gempal
penuh daging dan darah
kumisnya menjalar
di sisi bibirnya
yang kehitaman
hingga bertemu dengan rambut di janggutnya

dia selalu berbisik di sepanjang garis putih di jalanku
saat jauh, saat aku berpura tak kenal rumahku, di sini
ini udaraku
darahku pernah tertumpah di sini
dan cicak-cicak semenjak itu
masih merekam duka sekaratku

rumahku
menyentuh hingga ke langit
keharuanku

aku terbawa aroma kopi ibuku
aku tertampar, aku bahagia
aku berontak
dan aku sekarang merangkul
semuanya

jiwaku harus di sini
rumahku yang penuh tanda dan kiasan
rumahku di desa belantara
rumput-rumput di sini menari
dengan kaki hijaunya, menari
dengan mata dan senyum hijaunya
kulihat mereka setiap pagi
dan di kala siang mereka tertidur
dalam pelukan matahari

dan di sore hari, angin yang bergeming
mengitari ladang layaknya sebuah cincin
membangunkan petani yang tertidur kelelahan,
setelah payah mengairi sawah
yang melahirkan biji-bijian
dari rahim tanah

dan seorang pengembara
yang tertawan kebebasan
di jalan-jalan yang liar
langkahnya mengiris sebentang ladang
memungut kembali mainan kayu di sebuah beranda
ibu dan ayahnya
masih tersimpan di dalam rumah
seperti sepasang boneka penuh debu
dengan sepasang mata yang masih sempat
memberi salam

saat kaki pengembara menapaki undakan
bayangan tubuhnya memeluk
cinta yang tertata di setiap pintu
layaknya kembang-kembang sesaji
aromanya merasuki ingatan

2010


bermain-main dengan malaikat


malam ini teduh
kututupi semua tubuhku dengan selimut garis-garis
yang kudapatkan dari kekasihku, berkulit sutera putih

debu di kamarku kini masih terasa ringan
dan nafas pun belum terasa kantuk
telah lama berdiam dengan tubuhku yang lurus,
tangan mengikat dada
dan mata masih mengartikan langit-langit

sayap dalam ruhku
menerbangkan aku hingga biru
namun, suratan yang tercatat
aku masih harus kembali ke tubuhku
ditandai suara tajam seorang perempuan tua
memanggil dengan tongkat bengkoknya
secerdik mungkin aku berpaling,

karena suratanku
belum bisa aku tepati

suratan itu,
sayangnya aku salah menguraikannya
seharusnya kini
aku harus mencari cincin
di dalam kantung celana biruku

namun, nampaknya malaikat marah padaku
aku tetap seperti ini, menghampar badan
dan tertutup selimut

angin-angin dan angan-angan saling mengawini
lalu menghampiri opera akalku yang bernyawa
namun sama sekali tak menginginkan nafas

dia menciumku,
nafsuku mulai terangkat,
semakin garang menelanku

malaikat pun semakin marah padaku
suratan itu tidak juga aku penuhi
harusnya aku kini tengah bermain-main
di surga atau neraka
namun, nampaknya malaikat semakin marah padaku
hendak mengadukan kepada tuhan.

aku memang telah
mempermainkan malaikat itu
aku harus bergegas memenuhi suratanku, sebelum tuhan
percaya kepada malaikat
dan murka padaku
bila itu terjadi, aku sungguh tak bisa lagi
memandang atap rumahku
yang terhiasi nama ibuku

2011

aku melihat dirimu

aku melihat dirimu
di sepanjang jalan langit,

di separuh malam yang hampir usai
jiwa-jiwa melayang di sampingku
mereka beramai-ramai merayu malam yang tak tahu apa-apa
dan aku masih berpura memilih terdiam dan tak melakukan apa-apa yang berarti
seperti menabur cacian di spetak galian kubur untukmu
melemparimu dengan batu-batuan hitam yang lama kubakar dan memerah

namun nampaknya, kau masih lihai merayuku
kau selipkan sepotong kertas dan kau tuliskan "tak berarti kosong"____di saku kiri kemeja merah kesayanganku

lalu yang terbaru,
hari kemarin
ada yang berbeda
langit  berubah tertutup awan
dan kau, tak ada segarispun disana
namapaknya kau telah turun dan kau terlihat terduduk di bangku taman seberang mataku

ada rekaman khusus setelah lama mataku menunjukmu
kau melihatku diantara 2 hitungan angin,
dengan mata yang menggembirakan
dan sedikit senyuman merah dan biru

Cigaru 2011



hawa merintih dibalik danau hitam

wanita pengisap luka
tak ada matahari disini, dibalik danau hitam
hanyalah air-air yang terhenti
ditengah kehitaman

tak akan kau jumpai
angin-angin memanah
dahan-dahan pepohonan,
hanya hitam dan irama kosong

rintihanmu tak terdengar oleh suara-suara
dan kata-kata,
karena terhalang sendi-sendimu, bukan kuasamu

engkau biarkan usiamu
tak beranjak dari sini,
bedusta kepada cahaya
yang mengajakmu temukan kota, kebisingan, lampu-lampu disko,
dan kuil,
tempat Tuhanmu seakan mendengar

rintihanmu hanya menambah keindahan
ombak ombak yang menepi ketanah raya, neraka
kau hanya akan terus mencari
dimana tuhan yang menciptakanmu,
disini iblis akan mengasuhmu
2010

daun kering terjatuh diantara kita

daun kering terjatuh di antara kita,
menyebrang angin demi angin.
debu di jalanan serta merta menembak dan menampar
dinding-dinding pagar pembatas taman kota,
menembak bagai mesiu lurus dan tajam
menaklukan angin yang buta dan terpecah

daun kering terjatuh diantara kita,
kering katamu memanggil tanganku yang telah lama
tak menyentuhmu.
disini saat kita sama-sama terduduk,
riang anak bagai perlombaan kicau burung
benyanyi dan mengisi irama diam kita

setahun telah terbakar,
semenjak pertemuan sederhana di malam itu.
kita berada disini, daun kering mengurung air agar tak dipinang matahari
mengingatkan padaku, kau jelas satu tahun ini
berjalan tanpa lara, tanpa gemuruh dalam dada, tanpa benci

namun diam,
daun kering tebakar, berubah abu, tangan menggapai angin bersatu
berganti tahun, daun kering di antara kita
menjumpai kita terduduk disini

2010 

beri aku makan

beri aku nasi
aku belum makan satu abad
jangan tangisi aku
berilah aku makan saja itu sudah cukup
biar aku berikan padamu semua doaku
agar engkau sanggup lebih
banyak memberi makan
makhluk-makhluk sepertiku

berilah aku sekuntum padi
senyummu memberiku syukur yang panjang
engkau patut menagih doa padaku
bila aku telah hilang
dan doaku tertahan di pintu langit
keruklah semua tulang-tulangku
di dalam rumah tuhan
dan lunaslah hutangku

2010



 











Ilham Akbar, alumni PP Cigaru, sekarang mahasiswa STAIN Purwokerto

Tidak ada komentar:

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer