Minggu, 09 Oktober 2011

Keriangan dalam Bedah Novel Ning Aisya

13 April 2008, gegap gempita sastra pesantren bergema di bumi Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang. Lautan ilmu yang berisikan tinta-tinta mulia sesuai dengan titah KH. Wahab Hasbullah pendiri Bahrul Ulum yang tertuang dalam surat al-Kahfi ayat 109 mulai terbaca. Minggu yang tercatat dalam benak-benak santri jadi saksi tersendiri, kalau sastra pesantren mulai meretas dalam dada mereka. Bedah novel dengan tema “Menguak Keajaiban Pesantren Melalui Pena” agaknya menjadi testimoni dalam perjalanan sastra Indonesia. Trilogi Ning Aisya yang ditulis oleh Camilla Chisni dan Jadilah Purnamaku Ning oleh Khilma Anis, menjadi bukti, pesantren tak hanya berkutat dengan tradisionalisme, lebih dari itu ternyata santri bisa meramaikan kancah dunia modern.

Kedua penulis muda berbakat tersebut merupakan kakak kelas saya di PP. Bahrul Ulum dan menempuh lintas pendidikan di MAN Tambakberas Jombang. Usai acara dibuka oleh sambutan panitia dan pengasuh, bedah novel yang merupakan rangkaian dari acara Mentoring yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum (Himabu) ini, segera diambil alih oleh saya selaku moderator. 

Penyair dan Keruntuhan Sejarah

Faisal Kamandobat

Sejauh mana sosok manusia bernama penyair mampu mengada dalam sejarah? Filsuf metafisika Martin Heidegger (1971) menyebut puisi sebagai media terbaik bagi manusia untuk mengada (becoming), karena puisi memiliki karakteristik yang mampu memberi kepenuhan makna dalam kesadaran manusia.

Pendapat filsuf metafisika tersebut mesti didukung oleh penjelasan sosio-antropologis untuk mengetahui posisi dan peran penyair secara lebih konkret. Terdapat suatu masa dimana keberadaan masyarakat bergantung pada posisi dan peran para penyair, sehingga puisi menjadi teks yang memberi status ontologis bagi masyarakat tersebut. Namun juga terdapat fase dimana masyarakat menggantungkan status ontologisnya pada selain yang bukan puisi, dan sosok penyair pun menjadi figur pinggiran yang meski pun dipuja namun belum cukup didengar oleh publik.



Gus Dur sebagai Kata Kerja

Muhammad Al-Fayyadl


Memang mudah meraba denyut kehilangan itu setelah setahun lebih kepergiannya. Di Ciganjur, tepat di peringatan haulnya, ratusan orang berkumpul dan mengadakan berbagai acara hingga dua hari suntuk, dari diskusi serius, obrolan ringan, hingga panggung seni, untuk mengenangnya—seakan dia pergi untuk dimeriahkan, tidak untuk diratapi. Tapi, tetap, meski orang-orang tertawa (mereka mungkin mengenang lagi kejenakaan dan humor-humor cadasnya), atau sekadar bercanda kecil di tengah reriuhan acara, ada tanda tanya menggantung, yang tak terjawab: ada apa pasca-Gus Dur?

Tirani Kapital dalam Pendidikan















Judul: Tirani Kapital dalam Pendidikan: Menolak UU Badan Hukum Pendidikan
Penulis: Darmaningtyas, Edi Subkhan, dan I Fahmi-Panimbang
Tebal Buku: xxix+412 halaman
Penerbit: Damar Press dan Pustaka Yashiba (Jakarta)
Tahun Terbit: Januari 2009

Pendidikan adalah hak dasar setiap warga yang dilindungi oleh Undang Undang. Akan tetapi neoliberalisasi ekonomi yang menggurita di segala bidang telah pula menjalar ke pendidikan dan membawa pemahaman baru bahwa pendidikan adalah untuk mencari keuntungan (education for profit).

Puisi dan Agama

Oleh: Zacky Chaerul Umam

Dunia sastra Indonesia patut berapresiasi. Sastrawan Arab yang juga pemikir Arab, Ali Ahmad Sa'id (akrab dipanggil Adonis), memberikan ceramah di Jakarta dan Yogyakarta, hingga Kamis esok. Di Salihara dan Utan Kayu, Adonis sudah memberikan beberapa aspek pemikirannya tentang "kebenaran puisi dan kebenaran agama". Sebetulnya tak saja kalangan sastrawan atau peminat seni dan sastra yang datang antusias mendengarkan langsung karya dan pemikiran dari sang penulis langsung. Karena ia mengkritik cara beragama, tentu saja kalangan agamawan dan masyarakat umum relevan dengan ceramahnya.


Faisal Kamandobat: Shalawat Kematian













 
Shalawat Kematian

Wahai Nabi yang tertanam di tanah Madinah
Terimalah salam kami orang-orang yang tersesat di tengah rahasia

Wahai Nabi yang mengetahui perbedaan Hidup dan Mati
Buatlah kopi kami sepahit Maut dan sehangat Cinta

Masjid Kotagede: Saksi Bisu Berdirinya Kesultanan Mataram


Bangunan joglo yang besar nan kokoh itu terlihat sepi tanpa terlihat aktivitas manusia apapun. Biasanya bangunan ini ramai dikunjungi karena banyak yang memercayainya sebagai pembawa berkah. Masjid Besar Mataram Kota Gede begitulah masyarakat Yogyakarta mengenalnya. 

Masjid tersebut merupakan salah satu benda cagar budaya Yogyakarta yang ternyata merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam dan saksi pecahnya Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta bagian Puroluyo Mas Bekel Hastano menjelaskan bangunan ini didirikan 1579 oleh Ki Ageng Pemanahan, orang yang diberi hadiah Hutan Mentaok oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir karena berhasil membunuh Arya Penangsang. 

Kesehatan: Deteksi Penyakit Lewat Warna dan Bau Urin




Deteksi Penyakit Lewat Warna dan Bau Urin

Warna dan bau tertentu pada urin bisa menjadi tanda-tanda sejumlah penyakit, mulai dari infeksi sampai kanker.


Analisis terhadap urin untuk mengetahui kondisi kesehatan dilakukan lewat proses yang disebut "urinalisis". Proses tersebut dilakukan untuk mengetahui zat-zat yang terkandung dalam urin. Itulah sebabnya dokter kerap meminta pasien melakukan tes urin meski pasien tidak memiliki keluhan yang berkaitan dengan urin. Lewat urin, dokter dapat mengetahui berbagai hal yang terjadi di dalam tubuh.

Iptek: India Kembangkan Komputer Tablet 35 Dolar




India meluncurkan komputer tablet yang disebut-sebut sebagai yang termurah di dunia, dengan harga tersubsidi menjadi hanya 35 dolar. Tablet akan dijual kepada para pelajar, demi memperluas akses digital di negara tersebut.

Untuk tahap awal, komputer yang dinamai Aakash, yang berarti langit, ini akan diproduksi sebanyak 100.000 unit. Baru pada beberapa bulan kemudian jumlah ketersediaan perangkat akan ditingkatkan menjadi jutaan unit.

Jerussalem: Puisi Penyair Palestina, Nizar Qabbani

Jerussalem

Aku menangis sampai air mataku kering
Aku berdoa sampai lilin berkedip-kedip
Aku berlutut sampai lantai berderit
Aku bertanya tentang Muhammad dan Kristus
Oh Yerusalem, aroma nabi
Jalur terpendek antara bumi dan langit
Oh Yerusalem, benteng hukum
Seorang anak yang indah dengan jari hangus
dan mata putus asa

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer