Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Puisi Santri: Edien Etqiya


Edien Etqiya
Santri Pesantren Cigaru


HILANGNYA KEINDAHAN HIDUP

Aku ingin terbang menggapaimu, 
Tapi amarahmu telah patah kan sayap – sayap ku
Akupun tak berdaya,
Aku hancur,

Dan ketika malam datang,
bintang yg biasa menyapa ku dengan rasi nya 
kini tinggal jejaknya
yang membekas di tata surya

Senin, 17 Oktober 2011

Puisi Santri: Bahauddin Sholeh (2)

Ritual 500 Tahun Kalijaga diPesantren Kaliopak
















Jika Dunia Ini Makna

jika dunia ini makna
maka aku dan kamu adalah kata
untuk merajut maksud terdalam

Jogja 2011





Sabtu, 15 Oktober 2011

Puisi Santri: Ita Nuraeni


Ita Nuraeni
Siswa Kelas X MA PP Cigaru


SEPI

Langkah kaki untuk mendaki
Goyangan tangan untuk mencari
Hati ini merasa redup dan sepi
Tak setitik pun saut kian menghampiri.

Ketika sinar mentari mulai menyinari
Hidup terasa sepi
Tapi saat tenang menjadi petang
Kepala merunduk terasa sepi.

Jumat, 14 Oktober 2011

Puisi Penyair Syiria: Nizar Qabbani (1923-1998)

Peramal (Qariul Finjan)

dengan mata yang cemas
dia duduk
merenungi gelas yang terbuka
kemudian berkata,
“tak usah bersedih, anakku
kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”
anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya
untuk kekasihnya
adalah seorang martir.

Puisi Santri: Karya Ilham Akbar (3)

daun kering terjatuh di antara kita


daun kering terjatuh di antara kita,
menyebrang angin demi angin.
debu di jalanan serta merta menembak dan menampar
dinding-dinding pagar pembatas taman kota,
menembak bagai mesiu lurus dan tajam
menaklukan angin yang buta dan terpecah

Puisi Faisal Kamandobat (3)


BULAN DAN MATAHARI
KAUM GIPSY

-- buat Mahmud Dimyati


Aku pernah merasa memilikimu
seperti bulan memantul
pada mata nyenyak pedagang gipsy
di tepian jalan ini

Namamu mengigau dalam ingatanku
Di jalan lain kau kehilangan namamu
Melupa, di malam yang sama

Selasa, 11 Oktober 2011

Puisi Santri: Bahauddin Sholeh

sekali ini

sekali ini, bukan mata dan tubuh
yang menampakkan kau dalam hatiku
tetapi, desiran nafasmu yang belum aku mengerti,
sampai saat ini

: kau rangkai nafas-nafas
yang tersendat-sendat dalam imajinasiku,
memberi seribu alasan untuk tafsirnya

Minggu, 09 Oktober 2011

Puisi Santri : Karya M Ridwan (3)

SEBUAH CERMIN

Seseorang
Membawa cermin
Dihadapkannya pada yang lain
Sayang sekali,
Sekalipun tak pernah
Ia hadapkan diri
Pada cerminnya sendiri

Cigaru, 2011


Puisi Santri : Karya M Ridwan (2)

BEBUNGA TAMAN

Latar malam
Di kebun bunga
sunyi
Tanpa wangi
Tak seperti ketika pagi
Menyambut senja
Dengan beragam wangi
Menjadi sisa hari..

Cigaru, 2011

Puisi Santri Karya Ilham Akbar

kala penyair mengetuk pintu musim baru

kala penyair mengetuk pintu musim baru
jiwa lalang buana
kembali pada bulan dan tulisannya
menimbang kata dan makna
yang berbaris
tanpa merasa bersalah
menguntit perjalanan leluhurnya
yang berdandan rapi, berprasangka baik
kepada matahari, dan bermartabat

Faisal Kamandobat: Shalawat Kematian













 
Shalawat Kematian

Wahai Nabi yang tertanam di tanah Madinah
Terimalah salam kami orang-orang yang tersesat di tengah rahasia

Wahai Nabi yang mengetahui perbedaan Hidup dan Mati
Buatlah kopi kami sepahit Maut dan sehangat Cinta

Jerussalem: Puisi Penyair Palestina, Nizar Qabbani

Jerussalem

Aku menangis sampai air mataku kering
Aku berdoa sampai lilin berkedip-kedip
Aku berlutut sampai lantai berderit
Aku bertanya tentang Muhammad dan Kristus
Oh Yerusalem, aroma nabi
Jalur terpendek antara bumi dan langit
Oh Yerusalem, benteng hukum
Seorang anak yang indah dengan jari hangus
dan mata putus asa

Sabtu, 08 Oktober 2011

Puisi Faisal Kamandobat



ORANG-ORANG CACAT


   Si Bisu:

      Sepuluh jemari tangan kujadikan lidah
      untuk meluncurkan setiap kata pada dunia
      kerdipan mata kujadikan bahasa
      agar kau yang menatapku memahami hidupku.

      Jika jemari tanganku patah
      jemari kakiku akan mengganti perannya:
      tanpa masalah kutaruh kata-kata di kakiku
      ia sudah biasa bercakap-cakap dengan mataku
      setiap kali mecari jalan yang mungkin dilalui.

      Jika rasa lapar mengembara—
      karena mulutku bisu,
      perutku bergemuruh memanggil makanan:
      datanglah nasi diantar tanganku
      menyertainya lauk dan sayuran,
      sendok mengangkat mereka ke mulut
      sedang perutku menyediakan kantongnya
      lengkap dengan usus dan empedu
      gejolak paru-paru dan lambung berdenyut.

      Semua berjalan dengan baik dan lancar:
      aku tak perlu menuntut lebih pada mulutku
      mulutku tak perlu meminta maaf pada kebisuanku.

Jumat, 30 September 2011

Dua Puisi Indah Karya Rilke

PADAMKAN MATAKU

Meski kau padamkan bara di mataku: aku masih melihatmu,
Sumbatlah rapat telingaku: aku masih mendengarmu,
Tanpa kaki aku masih mampu mendatangimu
Mulut tiada aku masih sanggup memanggilmu.
Potonglah lenganku, aku masih sanggup memegangmu
Dengan jantungku yang tangan,
Hentikan jantungku, maka otakku akan berdetak,
Dan jika kau sulut otak itu
Kau bakal kupanggul dalam darahku.

Minggu, 25 September 2011

Puisi Santri: Karya M Ridwan


M Ridwan

Santri PP Cigaru

 
JALANAN SUNYI

Jalanan yang membujur di depan kaki kita
Seolah sumbu yang memisahkan
Cahaya lampu listrik di tepi setapak jalan
Dengan pandangan pilu seorang adam.

Karangreja 2004

Antara Doa dan Dosa: Puisi Para Siswa MAPP Cigaru
















Siti Rahmah

Kelas X MAPP Cigaru

Langkah Tak Tentu Menuju Surgamu

Awan hitam di ujung menara sana
Adalah badai kecil di hatiku
Giat ketika maksiat
Payah ketika beribadah

Awan hitam di ujung menara sana
Adalah ungkapan Sang Nabi
Tentang harumnya kesturi
Tentang cantiknya bidadari
Tentang penjagamu yang bernama
Ridwan


Sabtu, 24 September 2011

Ode Bagi Yang Tak Dikenal

Puisi-puisi Alfiyan Harfi

KEPADA YANG TERSEMBUNYI


aku melihat sungai

mengalir di wajahmu
udara adalah kulitmu
dan matamu kulihat
pada segala yang kulihat
serupa cermin yang murni

sekali kau berkata padaku

lewat bunga yang mekar
serupa merah bibirmu
serupa keabadian
yang jatuh ke dalam waktu

engkau adalah peristiwa

yang runtuh di masa lalu
engkau adalah masa depan
yang menyusup
ke dalam mimpi sadar

Puisi-puisi Ilham Akbar

rumahku

rumahku di tengah belantara desa
rumahku kayu berjajar berbentuk undakan
cinta tertata rapi di setiap pintu
udara sopan bergeming lewat

tawa anak laki-laki
memamerkan mainan kayu susunnya
menjadi kebanggaan
dan lukisan pelangi
menyihir
agar semua tersenyum

Jumat, 23 September 2011

Puisi-puisi Pablo Neruda

Soneta XVII

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau lembayung,
atau panah anyelir yang meluncur dengan api yang padam.
aku mencintaimu seperti sesuatu yang harus kucintai,
secara rahasia, antara jiwa dan bayangannya.

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi penuh cahaya dari kuntum bunga-bunganya yang tetap remaja;
terimakasih atas cintamu yang harum,
yang menyembur dari perut bumi dan menyala di kegelapan tubuhku.

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, kapan, dan dari mana
aku mencintaimu begitu saja, tanpa pertimbangan dan keangkuhan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

beginilah: di mana saja aku lenyap, juga kau;
begitu dekat sehingga ketika kau taruh lenganmu di dadaku jadilah itu lenganku,
begitu dekat sehingga ketika kau menutup mata aku pun ikut tertidur

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer