Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

SANG MAWAR

 Sebuah Cerita Untuk Sahabat Tercint 

Rose, karya Giorgia O'Keeffe
Oleh Robitul Ashar
Alumni Pesantren Cigaru
Tinggal di Patimuan

Pagi itu udara kering, angin menceriterakan betapa gersang alam saat kemarau, debu-debu terusik beterbangan menambah catatan kelam dedaunan. Mata memandang penuh harapan pada awan hitam dikejauhan. Sukma sekarat saat awan hitam tak bersisa, hanya menjelma embun pagi,yang hampir tiada arti. Sepenggal cerita balada anak manusia saat mengubur cintanya di padang sahara, karena cintanya menjadi seperti anak haram yang kelahirannya tak diharapkan, rasa sayangnya melimpah mengubur dalam-dalam kerinduanya yang tabu. Rasa kagum yang menggunung hanya mampu diceritakannya melalui sorot mata, inilah aku serang manusia yang terus berdiri di titik nadir.

Senin, 17 Oktober 2011

Suminah

Robitul Ashar

Robitul Ashar
Alumni Pesantren Cigaru
Tinggal di Patimuan, Cilacap

“Oalah… Pak, mengapa nasibmu seperti ini!”  
 Mbok Minah, demikian panggilan Suminah, menangis sejadi-jadinya sambil terus mengguncang tubuh suaminya. kedua putrinya disamping kanan kiri pun terus meratap. Para  tetangga hanya berdiri tertegun melihatnya, seakan tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka merubung jasad Sumarto yang dibaringkan di atas meja tua yang kaki-kakinya sudah terlihat usang. Tubuhnya ditutupi dengan kain jarit wajahnya terlihat tenang, kerutan kulit wajahnya yang keras dan hitam menunjukkan ia seorang yang tegar dan tak kenal menyerah. Dua puluh tahun terahir hidupnya ia jalani dengan berat dan penuh penderitaan. Karena hanya dengan bekerja sebagai tukang Penggayuh perahu untuk menyebrangkan orang-orang yang terus berlalu-lalang, dengan penghasilan yang minim dan tak cukup untuk menghidupi dua orang putrinya yaitu Sumini, yang akrab dipanggil Sumi, dan Suminem yang akrab dipanggil Inem. Dan Suminah istrinya membantu Sumarto dengan mencari daun pisang di pekarangan tetangganya untuk dijual ke pasar.

Cerita: Bocah Perempuan dan Malaikat Buta



Oleh  Dina Amalia Susamto
Peneliti di Dewsn Bahasa Jakarta
Aktif menulis karya sastra

Sarinarendra, pendongeng kita. Namanya dikutip ayahnya dari dongeng rakyat yang bercerita tentang keelokan putri istana yang pandai memetik kecapi. Barangkali dongeng itulah yang kemudian membisikinya setiap  hari untuk belajar memetik kecapi, hingga kini benda itu telah jadi bagian dalam hidupnya yang tak terpisahkan, menemaninya kemanapun ia pergi, mengembara, mengumpulkan dongeng-dongeng untuk ia kisahkan kembali dihadapan wajah-wajah yang sering dicadari dengan rahasia-rahasia duka  di kedai-kedai kopi.
            Duka memang bagian dari hidup manusia. Sarinarendra lebih sedih  jika ia tak sempat bertemu dengan laki-laki paruh baya, yang suka mengenakan warna biru, yang  menudungi selaput matanya dengan kesunyian yang getir tapi manis, kenangan yang indah tapi pahit yang memantul-mantul di dinding-dinding  gelap. Ya, meskipun hanya satu  kali saja, Sarinarendra ingin memetikkan kecapi dan mendongengkan sebuah kisah. Mungkin dongengan dapat membantunya membebat luka, seperti pelukan hangat yang mengeringkannya perlahan. Sarinarerndra bercerita tentang bocah perempuan dan malaikat buta. Inilah kisahnya:

Sabtu, 15 Oktober 2011

CERMIN


Karya Rene Margritte
Oleh : M.Ridwan 
Santri PP Cigaru 

Senja kian menciptakan bayang-bayang di timur bebukitan gersang. Sisa-sisa hari masih berlaku sibuk bagi pemuda-pemuda bersarung –berkopyah putih yang berlalu-lalang di suatu pondok pesantren. Namun, kali ini, bukan gemuruh suara kitab-kitab kajian para santri, tapi, mereka sibuk antri berwudhu sambil sesekali menjawab suara adzan yang ketika itu terdengar begitu indah. Ya, tentu ada juga yang menganggap suara itu tak begitu indah di hatinya. Terutama bagi yang merasa suaranya lebih bagus atau yang menyimpan rasa tak sedap di hatinya pada muadzin itu. Begitulah. Namun, bagaimanapun, mereka semua tetaplah para santri yang sebentar lagi akan menjalankan sholat maghrib bersama-sama.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Cerpen: Almaut Sang Penyamar


Oleh Faisal Kamandobat

Maut adalah orang buta
yang melihat dengan ujung jari
menudingmu
 
Awalnya, cerita seputar Almaut beredar di sebuah kafe di Kairo yang terletak di lorong panjang yang mengalir di antara rumah-rumah lapuk dari tanah liat. Seorang jurnalis Inggris turut hadir di kafe itu untuk mendengar riwayat Almaut dari seorang juru cerita buta yang matanya selalu menerawang kosong. Juru cerita itu seorang lelaki tua yang khas: berjenggot panjang, beralis tebal, memakai gamis gelap, dan selalu membawa pipa hashis di tangannya. Setiap malam, lelaki tua itu berkunjumg ke kafe al-Mustathraf untuk minum kopi. Jika seorang pemain rebana dan penyair jalanan menyusulnya ke kafe, maka orang-orang segera berduyun-duyun untuk mendengar hikayat-hikayat, dongeng-dongeng, serta kisah-kisah misterius, yang meluncur dari mulut lelaki tua itu yang penuh bualan.

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer