Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Agustus 2014

Sejarah Pers Indonesia dan Media Budaya

Sejarah Pers Indonesia dimulai dari media-media iklan di jaman penjajahan Belanda. Dari saja kemudian berkembang meenjadi media yang menjual informasi dengan iklan sebagai penopang media. Media-media tersebut pada awalnya adalah media-media kemeerdekkan seperti Harian Rakyat, Suluh Indonesia, Indonesia Raya, dan lain-lain.

Perkembangan berikutnya media semakin spesifik. Ada media politik, bisnis, gaya hidup, bahkan media humor. Lalu ada juga media buadaya seperti Kancah, Manusia, Horison, Basis, Lesbumi, dan lain-lain. Salah satu media budaya yang sedang naik daun adalah  Jogja Review dengan semboyan Jogja Bukan Sekedar Melihat karena menampilkan info seni, budaya dan politik dengan kemasan enternainmen sehingga digemari anak muda Jogja yang kebayakan adalah anak mahasiswa yang kritis dan kreatif.

Senin, 17 Oktober 2011

Studio Seni Tertua di Dunia Ditemukan

 Cangkang yang berisi oker sebagai bukti bahwa penduduk Afrika Selatan sudahmengenal studio sejak 100.000 tahun lalu.       
Arkeolog menemukan tempat yang mungkin menjadi studio artis tertua di dunia di Gua Blombos, selatan Kota Cape Town, Afrika Selatan. Tempat yang diperkirakan berusia 100.000 tahun itu digunakan untuk membuat dan menyimpan pigmen kemerahan disebut oker, biasa dipakai untuk melukis, dekorasi dan pelindung kulit.
Penemuan ini dilaporkan di jurnal Science, Jumat (14/10/2011) lalu. Penemuan tempat ini juga disertai dengan penemuan mangkuk batu penumbuk, cangkang untuk menyimpan, arang sebagai campuran pigmen, alat dari tulang serta alat pancing.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ketika Para Kiai dan Dhalang Merumuskan Kebudayaan Jawa


Pentas 11 Dhalang dalam 500 tahun Sunan Kalijaga
Retno Iswandari
Santri Pesantren Kaliopak Jogja; Mahasiswa Pascasarjana FIB UGM     


Serangkaian acara peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga telah dilaksanakan pada tanggal 18-31 Juli 2011. Rangkaian acara yang bertema ‘Meneguhkan Jati Diri Bangsa dan Hikmah Bhineka Tunggal Ika’ ini meliputi Lampah Ratri (berjalan pada malam hari dari Pesantren Kaliopak sampai Kraton Yogyakarta), pagelaran wayang kulit lakon-lakon ajaran Sunan Kalijaga (selama 11 malam dengan 11 lakon dan 11 dalang), pentas seni, diskusi, sarasehan nasional, dan sema’an Al-Qur’an. Acara tersebut terselenggara atas kerjasama Pesantren Kaliopak dan Lesbumi DIY.

Minggu, 09 Oktober 2011

Grebeg Syawal, Ritual Sedekah Bumi Keraton Yogyakarta



Bagi warga Yogyakarta, perayaan Idul Fitri tak hanya dirayakan dengan acara temu keluarga besar atau saling bermaaf-maafan saja.  Namun,hari besar kemenangan ini dirayakan meriah oleh seluruh masyarakat yang ada di Yogyakarta baik penduduk asli maupun wisatawan dengan upacara tradisional Grebeg Syawal.

Perayaan Grebeg Syawal di Yogyakarta dilaksanakan untuk menyambut 1 Syawal 1432 Hijriah yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 2011. Grebeg ini merupakan grebeg kedua di tahun ini setelah Grebeg Mulud dilakukan. Grebeg Mulud adalah  peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Prosesi grebeg yang berlangsung pada Rabu (31/8) ini  dilakukan dengan membawa  gunungan berisi hasil bumi dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.Pengarakan gunungan ini dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) H. Yudaningrat diikuti 10 bergodo (pasukan keraton).

Masjid Kotagede: Saksi Bisu Berdirinya Kesultanan Mataram


Bangunan joglo yang besar nan kokoh itu terlihat sepi tanpa terlihat aktivitas manusia apapun. Biasanya bangunan ini ramai dikunjungi karena banyak yang memercayainya sebagai pembawa berkah. Masjid Besar Mataram Kota Gede begitulah masyarakat Yogyakarta mengenalnya. 

Masjid tersebut merupakan salah satu benda cagar budaya Yogyakarta yang ternyata merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam dan saksi pecahnya Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta bagian Puroluyo Mas Bekel Hastano menjelaskan bangunan ini didirikan 1579 oleh Ki Ageng Pemanahan, orang yang diberi hadiah Hutan Mentaok oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir karena berhasil membunuh Arya Penangsang. 

Sabtu, 08 Oktober 2011

500 Tahun Sunan Kalijaga: Jejak Sejarah dan Maknanya

MEMBANGUN INDONESIA BARU  MELALUI JEJAK MASA LALU

Oleh: Sarah Monica


Penderitaan Bangsa Linglung
Seberapa sering Anda menonton atau membaca berita dalam sehari? Seberapa sering pula Anda memaki dan mencaci drama politik yang dimainkan para pejabat akrobatik di dalam berita tersebut? Mereka berjungkir-balik saling menudingkan kesalahan terhadap lawan politik dan menepis diri dari tuduhan kejahatan pada diri mereka sendiri. Ibarat permainan sirkus yang terus disajikan secara berulang, kebosanan pun menghinggap rongga dada dan cangkang pikiran kita. Kebosanan akan perilaku korup para elit pemerintahan dan lemahnya sistem hukum negara ini. Rakyat terus-menerus diajak bergoyang di atas perahu ketidakpastian negara kita sampai mual!


Komunitas Matapena: Melahirkan Para Novelis dari Pesantren

Novel-novel pop marak diproduksi para santri. Tabir pesantren diungkap dengan gaul.

Cinta kemuliaan, membuat Dahlia rela banting tulang menjadi penari untuk menghindari keluarganya yang miskin. Cinta kebaikan membuatnya selalu ingin belajar untuk lebih baik. Dahlia memang perempuan yang dipenuhi cinta. Tak heran jika puetra dua pengasuh pesantren, Aiman dan Bilal jatuh hati padanya.
Jalinan cerita juga memunculkan konflik. Mbah Jalaluddin Rumi, ayah Aiman, membela Dahlia ketika Kiai Umar dan ormas Islam lainnya menyudutkan Dahlia dengan tariannya--yang dianggap haram.


 Ada kisah lain lagi. Seuntai mawar dan surat berisi puisi tanpa nama pengirim tiba-tiba muncul di asrama pesantren puteri tiap akhir pekan. Mawar dan puisi itu ditujukan kepada Zahra. Pesantren puteri itu pun jadi geger.
Zahra tak tahu siapa pengirimnya. Karena itu ia bungkam ketika ditanya oleh petugas keamanan pondok. Gosip pun bererdar. Ada lesbi di asrama itu yang diam-diam mencintai

Menyemaikan Nilai-Nilai Sastra di Pedesaan

Menyimak kegiatan LSdP (Liburan Sastra di Pedesaan ) #5 yang diadakan oleh Komunitas Matapena Yogyakarta, 26-28 Desember 2010 memberikan nuansa yang baru bahkan bisa dikatakan berbeda dari LSdP sebelumnya yang berlokasi di pesantren. Hal ini karena LSdP kali ini diadakan di pedesaan yang masih memegang tradisi dan budaya lokal masyarakat setempat. Tepatnya di Dusun Santan Guwosari Pajangan Bantul, dusun yang juga sering digunakan untuk kegiatan yang bersifat akademis, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN)dan Latihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LKD PMII) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lalu bagaimana jika kegiatan sastra–yang selama ini masih dianggap ekslusif–berbaur dengan kondisi sosial masyarakat setempat? Tentu sebuah pertanyaan menarik akan muncul. Mungkinkah sastra bisa menjadi bagian dari masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai luhur atau dapatkah sastra mengangkat harkat dan martabat umat manusia dus penduduk sebuah dusun? Sebuah karya sastra lahir dari persentuhan seseorang baik secara langsung atau tidak dengan ranah sosial. Akan tetapi, selama ini sastra belumlah begitu karib di kalangan masyarakat awam kalau tak boleh dibilang tak dikenal sama sekali.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari sebuah karya sastra? LSdP adalah bagian dari kegelisahan para pegiat dan penikmat sastra yang menamakan diri Komunitas Matapena, yang coba diwujudkan dalam bentuk kegiatan positif. Komunitas Matapena yang selama ini konsen terhadap pernik-pernik lokalitas merasakan pula bagaimana kondisi masyarakat sekarang yang tak sedikit mulai tercerabut dari akar nilai-nilai kemanusiaan. Sementara manusia memiliki sebuah nilai di dalam nuraninya yang masih tersimpan, seperti nilai-nilai kejujuran, perdamaian, kebersamaan, dan lain sebagainya. Nilai tersebut adalah ruh seyogyanya mengisi sebuah karya sastra. Nilai-nilau itu pulalah yang masih banyak dilahirkan dan bertebaran dalam kebudayaan masyarakat pedesaan. LSdP bisa menjadi alat untuk menyemaikan kembali rasa kebersamaan, kejujuran, cinta dan kasih sayang di dalam kehidupan yang beraneka ragam.

Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama

Realitas kebudayaan kita akhir-akhir ini sedang berada pada posisi yang terus mengalami pengasingan—ditinjau dari keberadaanya yang kurang diperhitungkan oleh para pengambil kebijakan baik pada wilayah politik, ekonomi, sosial, maupun intelektual. Kebudayaan juga berada pada kondisi yang terus mengalami pemiskinan—ditinjau dari kemerosotan, pendangkalan, dan penyempitan baik definisi, bobot, maupun cakupannya dalam kehidupan secara umum. Krisis keindonesiaan yang sekarang ini mendera bangsa kita, basisnya adalah krisis kebudayaan ini. Posisi dan kondisi kebudayaan tersebut tercipta sebagai akibat dari praktik dominasi yang dilakukan oleh tiga kekuatan utama:

1. Kekuatan kapitalisme pasar yang menilai kebudayaan dari sudut pandang pragmatisme pasar dan melakukan komodifikasi terhadap kebudayaan (baik kebudayaan sebagai khazanah pengetahuan, sistem-nilai, praktik dan tindakan, maupun benda-benda hasil ekspresi budaya), sehingga manusia ditempatkan sebagai objek ekonomi dan bukan subjek daripadanya.

2. Kekuatan negara yang menempatkan kebudayaan lebih sebagai alat pendukung kekuasaan (legitimasi politik), dan menempatkannya sebagai benda mati serta menjadikannya sebagai komoditas pariwisata untuk mengumpulkan devisa, yang artinya negara telah menempatkan dirinya sebagai sub-kapitalisme pasar dalam kaitannya dengan kebudayaan dan bukan menempatkan kebudayaan sesuai definisi dan perannya yaitu sebagai kumpulan pengetahuan, makna, nilai, norma, dan praktik serta berbagai materi yang dihasilkannya (atau singkatnya kebudayaan sebagai formula bagaimana suatu masyarakat melangsungkan kehidupannya).

Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer