Jumat, 30 September 2011

SEJARAH HIDUP K.H. A. WAHID HASJIM

K.H. A. Wahid Hasjim, yang merupakan putra pendiri Nahdlatul Ulama Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy'ari, dikenal sebagai sosok reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam di Indonesia. Dalam pandangan K.H. A. Wahid Hasjim, ilmu umum dan ilmu agama harus dijembatani sebagai satu-kesatuan, sehingga tidak ada lagi dikotomi di antara keduanya. 


Buku ini mengupas sejarah hidup dan pergulatan K. H. A. Wahid Hasjim: tentang perannya di Majelis Alam A'la Indonesia, keterlibatannya dalam pendirian Masyumi; tugasnya menjadi Menteri Agama selama tiga kabinet; perjuangannya memimpin Nahdlatul Ulama, hingga pergelutannya dalam kancah politik sejak era penjajahan Belanda dan Jepang. 

Membaca buku ini, kita diajak untuk menyelami sosok ulama dan guru karismatik, tokoh pahlawan nasional, dan pejuang cita-cita toleransi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sumber:
http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_full&id=3658


Dua Puisi Indah Karya Rilke

PADAMKAN MATAKU

Meski kau padamkan bara di mataku: aku masih melihatmu,
Sumbatlah rapat telingaku: aku masih mendengarmu,
Tanpa kaki aku masih mampu mendatangimu
Mulut tiada aku masih sanggup memanggilmu.
Potonglah lenganku, aku masih sanggup memegangmu
Dengan jantungku yang tangan,
Hentikan jantungku, maka otakku akan berdetak,
Dan jika kau sulut otak itu
Kau bakal kupanggul dalam darahku.

Minggu, 25 September 2011

Puisi Santri: Karya M Ridwan


M Ridwan

Santri PP Cigaru

 
JALANAN SUNYI

Jalanan yang membujur di depan kaki kita
Seolah sumbu yang memisahkan
Cahaya lampu listrik di tepi setapak jalan
Dengan pandangan pilu seorang adam.

Karangreja 2004

Antara Doa dan Dosa: Puisi Para Siswa MAPP Cigaru
















Siti Rahmah

Kelas X MAPP Cigaru

Langkah Tak Tentu Menuju Surgamu

Awan hitam di ujung menara sana
Adalah badai kecil di hatiku
Giat ketika maksiat
Payah ketika beribadah

Awan hitam di ujung menara sana
Adalah ungkapan Sang Nabi
Tentang harumnya kesturi
Tentang cantiknya bidadari
Tentang penjagamu yang bernama
Ridwan


Sabtu, 24 September 2011

Ode Bagi Yang Tak Dikenal

Puisi-puisi Alfiyan Harfi

KEPADA YANG TERSEMBUNYI


aku melihat sungai

mengalir di wajahmu
udara adalah kulitmu
dan matamu kulihat
pada segala yang kulihat
serupa cermin yang murni

sekali kau berkata padaku

lewat bunga yang mekar
serupa merah bibirmu
serupa keabadian
yang jatuh ke dalam waktu

engkau adalah peristiwa

yang runtuh di masa lalu
engkau adalah masa depan
yang menyusup
ke dalam mimpi sadar

Puisi-puisi Ilham Akbar

rumahku

rumahku di tengah belantara desa
rumahku kayu berjajar berbentuk undakan
cinta tertata rapi di setiap pintu
udara sopan bergeming lewat

tawa anak laki-laki
memamerkan mainan kayu susunnya
menjadi kebanggaan
dan lukisan pelangi
menyihir
agar semua tersenyum

Jumat, 23 September 2011

Puisi-puisi Pablo Neruda

Soneta XVII

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau lembayung,
atau panah anyelir yang meluncur dengan api yang padam.
aku mencintaimu seperti sesuatu yang harus kucintai,
secara rahasia, antara jiwa dan bayangannya.

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi penuh cahaya dari kuntum bunga-bunganya yang tetap remaja;
terimakasih atas cintamu yang harum,
yang menyembur dari perut bumi dan menyala di kegelapan tubuhku.

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, kapan, dan dari mana
aku mencintaimu begitu saja, tanpa pertimbangan dan keangkuhan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

beginilah: di mana saja aku lenyap, juga kau;
begitu dekat sehingga ketika kau taruh lenganmu di dadaku jadilah itu lenganku,
begitu dekat sehingga ketika kau menutup mata aku pun ikut tertidur

Puisi-puisi Jalaluddin Rumi


Puasa Membakar Hijab


Rasa manis yang tersembunyi,
Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi,
Ia tidak dapat berdendang,
Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.

Kolom Gus Dur Tentang Sastra Pesantren

PESANTREN DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA

Abdurrahman Wahid


Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak, karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.

Tentang Perbedaan Pengarang dan Penulis


Faisal Kamandobat 


APA perbedaan antara pengarang (author) dan penulis (writer)? Pertanyaan sederhana yang tidak mudah dijawab, apalagi bila disusul beberapa pertanyaan berikut: bagaimana membedakannya? Apa ukuran yang kita gunakan? Kenapa dibedakan?


Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui persamaan pengarang dan penulis. Persamaan keduanya adalah kerja mereka sama-sama berhubungan dengan bahasa. Bahasa dalam pengertian paling luas dan mendasar, yaitu sebagai formula yang membentuk kesadaran (bahkan ketidaksadaran--menurut psikoanalisis) dan pandangan hidup manusia. Seandainya terdapat seorang pengarang atau penulis mengaku mampu bekerja tanpa bahasa, orang tersebut bisa dibilang sedang berdusta.

Kamis, 22 September 2011

Puisi Faisal Kamandobat

Karya Vincent Van Gogh
SEPERTI MATAHARI

seperti matahari, cinta ini 
tak seorang pun menciptanya 
bahkan engkau dan aku, bahkan mawar 
yang berguru pada musim 
serta para rahib 
yang tekun menyimak wahyu 

mereka tak mampu
mencipta cinta

Kata-kata dan Irama: Surat Sastra Untuk Para Santri

Oleh Faisal Kamandobat
 
I


Para santri yang saya cintai. Tentu saja, sastra bukan hal baru bagi kalangan santri. Hampir semua materi pelajaran, mulai aqidah, fiqh hingga tata bahasa, disampaikan dalam bentuk sastra berupa nadzaman. Lebih lanjut dapat dikatakan, seorang santri dapat menaiki jenjang pengajian dari satu kitab ke kitab berikutnya, dari sebuah tingkat ke tingkat berikutnya, dengan melihat kemampuannya dalam menghafalkan nazdaman. Di kamar-kamar santri yang sederhana, atau di lorong-lorong pesantren yang khidmat pada tengah malam, atau di makam sang kiai yang keramat dan hening, para santri terangguk-angguk melantunkan nadzaman, antara tuntutan sikap khusyuk dan teror rasa kantuk, demi memenuhi standar kualifikasi dalam bidang pelajaran yang sedang dikajinya. Kenyataan tersebut menunjukkan di pesantren sastra telah menjadi ukuran penting yang menentukan sukses tidaknya seorang santri dalam studinya. Jadi, jika untuk menjadi seorang politisi seseorang disyaratkan memiliki cukup uang, pakaian bagus, kendaraan mewah dan kepandaian berbicara, untuk menjadi santri yang berhasil disyaratkan kecakapan dalam bidang sastra, yang di dalamnya terkandung etika, moralitas, teologi, hukum, filsafat, astronomi, dan bahasa. Sastra telah menjadi salah satu pilar penting yang membentuk dunia pesantren ke dalam tatanan yang koheren dan khas, yang oleh orang Yunani Kuno disebut sebagai kosmos.


Setetes Makna

Tanpa keberanian, engkau hanyalah ternak...

-- Pramoedya Ananta Toer